Di kerumunan hujan, aku teringat
bagaimana dulu
manisnya hubunganku dengan Kintan,
teman sekelasku. Kini kami begitu asing, sampai-sampai berpapasan pun kami tidak
menyapa satu sama lain.
Di bangku kelas ini, semua yang
pernah terekam begitu jelas terputar di kepala. Bagaimana canda tawa terlontar,
obrolan ringan, sampai berbagi makanan. Hari ini ternyata kelas ditiadakan,
padahal aku sudah berada di kelas (mungkin kesalahanku juga, karena aku jarang
mengecek handphone). Saat ingin
beranjak dari kelas, datanglah Kintan
dengan pakaian basah kuyup. Pandangan kami terkunci untuk beberapa saat saja.
“Untuk apa datang? Kelas
diliburkan,” ucapku datar.
“Oh.” ucapnya tak kalah datar.
Kemudian dia pergi ke arah kamar
mandi tanpa permisi sama sekali. Astaga, dingin sekali dia, sedingin cuaca hari
ini. Bahkan cuaca hari ini kalah dingin dengan sikapnya.
Karena bingung, aku pergi ke
kantin untuk membeli makan. Karena saking buru-burunya ke kampus, sehingga lupa
sarapan.
***
Keesokan hari yang begitu cerah namun teduh, aku
terbangun pukul 08.00.
Sungguh
malas diri ini untuk pergi ke kampus. Memang jatah bolosku untuk semester ini
masih utuh, tetapi kalau terus-terusan bolos, pasti bakal ketagihan untuk
membolos. Setelah melalui perdebatan batin yang cukup intens dan menguras
tenaga, kuputuskan untuk … membolos saja. Aku tarik selimutku menutupi seluruh
tubuh, seperti mayat yang akan dikebumikan.
Aku terbangun ketika jam sudah menunjukkan pukul
11.00, mata kuliah pertama sudah berjalan selama 30 menit. Kulihat handphone-ku yang sedari tadi bergetar.
Astaga, aku lupa kalau hari ini kelompokku maju untuk presentasi. Terlihat dari 15 panggilan tak terjawab dan 30 pesan
yang belum dibaca.
“Maaf
aku tidak hadir, tubuhku panas dari semalam”
Pesan kukirim ke salah satu
anggota kelompokku. Semoga mereka maklum dengan alasanku yang terkesan
mengada-ngada namun terasa natural olehku.
Setelah bangun tidur dan mengirim
pesan, rasa lapar memberontak menggeliat. Aku putuskan
membeli sarapan—yang super telat—di seberang kosku. Dari jauh aku melihat
seseorang yang aku kenal sebelumnya sedang menghampiri warung yang akan aku
datangi, terlihat samar karena mungkin rabun jauhku semakin bertambah sejak
terakhir kali aku memeriksanya (terakhir aku cek, minus-ku sekitar dua). Benar saja, seseorang yang aku lihat adalah
Kintan. Dengan ritme jantung yang begitu cepat, kuputuskan menghampiri Rani
yang ternyata membeli nasi uduk.
“Kemana kau tadi?” tanya Kintan dengan ekspresi dingin.
“Aku sedang demam, ini saja kupaksakan untuk beli sarapan,”
jawabku yang juga dingin. Padahal aku deg-deg-an
setengah mati. “Kok sudah pulang? Tidak ada dosen?” lanjutku.
“Tadi dosennya tidak masuk, jadinya presentasi mandiri,”
jawab Kintan
Aku hanya ber-oh ria mendengar penjelasan Kintan. Setelah
selesai dengan urusan nasi uduk, aku pamit ke Rani yang hanya dijawab dengan
anggukan kepala tanpa melihat wajahku. Ah...
kenapa kita menjadi begitu asing? Padahal dulu kita memutuskan berpisah dengan
cara yang baik-baik. Aku jadi ingat kata-katamu dulu sewaktu kita memutuskan
untuk mengarungi samudera masing-masing,
“Kita tetap menjadi teman, sapalah aku di kelas atau di manapun kita bersua”
Kini yang kurasakan hanya dingin yang kau lempar melalui
bahasa tubuh maupun tatapanmu. Selama apapun itu, aku akan menunggumu, Kintan.
***
Setelah tiga bulan berlalu, semester lima telah usai, dan
aku tetap berharap Kintan akan kembali. Liburan yang sebetulnya tidak libur
karena aku masih ada hutang revisi tugas-tugasku. Aku putuskan untuk bertahan
di kos selama seminggu agar aku dengan mudah bolak-balik ke kampus untuk
mengumpulkan tugas.
Aku diam di kamar kos. Karena terasa sepi, kuputuskan
untuk mengambil gitar dan memainkan lagu “To Be With You” yang diciptakan dan
dipopulerkan oleh band Mr. Big.
I’m the one who wants to be with you
Deep inside i hope you’ll feel it too
Waited on a line of greens and blues
Just to be the next to be with you
Di tengah lagu, handphone-ku
mendadak ramai notifikasi dari grup kelasku. Ada apa ini? Apakah ada revisi
baru? Aku buru-buru menyambar handphone
untuk melihat apa isi dari notifikasi tersebut. Tubuhku mendadak kaku, lidahku
kelu, tenggorokanku terasa kering. Salah seorang temanku mengirimkan foto
Kintan merangkul mesra lelaki di dalam sebuah mall yang diambil secara diam-diam. Kata “Cieee” memenuhi grup. Aku
langsung bertanya melalui pesan teks pada Kintan mengenai foto itu.
“Apa benar itu kamu yang ada di foto grup kelas?”
“Ya. Dan kamu tak perlu menghubungiku lagi”
“Lho, kenapa?”
“Aku sudah bahagia, jangan ganggu kebahagiaanku dengan
pesanmu”
“Baik kalau itu maumu. Terima kasih atas semuanya. Tentang
cinta yang kau berikan, tentang kehangatan di kala dingin, tentang perhatian
yang dibalut dengan cerewet. Terima kasih, Kintan.”
*Dibaca
Penantianku kini telah usai. Dengan hati yang patah,
kupaksakan untuk melangkah. Kini, kenangan hanya tinggal nama. Aku harus
mengubur kenangan itu dan semua harapku dalam-dalam. Terima kasih, Kintan.
Karawang, 29
November 2019